Senin, 14 Mei 2018

PUISI UNTUK MENENTUKAN PILIHAN

PUISI SUNRISE ATAU SUNSET
By. Rekolanus Roli
===========================
Jika kau ingin aku memilih...
Sunrise atau sunset?

Ketahuilah kasih...
Bahwa... Aku tidak ingin memilih keduanya.

Terlalu sakit menimbulkan harapan bersamamu, laksana sunrise yang dinanti.
Tapi, aku juga benci...
Kepada sunset yang dengan mudahnya mengubah harapan menjadi sebuah mimpi belaka.

Terlihat indah awalku melihatnya.
Tapi, pada akhirnya...
Sunset meninggalkan kegelapan dan menciptakan kekelaman.

Ya... Menciptakan kekelaman...

Sunrise...

Sunset...

Keduanya indah pada saat pertama.
Tapi, menciptakan harapan semu.
Membutakan hati dengan kelamnya malam gelap.

Sunrise atau Sunset?

Bukan Sunrise...
Bukan pula Sunset...

Aku memilih diam...

Karena...
Walau dalam pekat malam, aku ingin  memilih Sunrise...

Tapi, dalam terangnya siang, aku ingin memilih Sunset...

Dan...
Kini semakin terasa...
Sebuah pilihan tanpa jawaban.

Ahhh... Sudahlah...

Tanyakan lagi...

Sunrise atau Sunset?
===========================
Malang, 14 Mei 2018

PUISI KEBANGSAAN

PUISI BAKTI BAGI NEGERI YANG MATI
By. Rekolanus Roli
===========================
Perjuanganku...
Mengisi hari merdeka ini.
Memenuhi cawan harapan undang-undang.
Melarutkan masa dalam buai mimpi.

Darah juangku adalah berkarya.
Bukan hanya bicara semata.
Berkarya bukan dengan tahta.
Bukan pula hanya dengan sebuah kata.
Tapi, dengan CINTA dan jiwa yang MEMBARA.
Ya, jiwa yang membara...
Untuk sebuah bakti.
Sebuah bakti yang dijunjung tinggi.
Sebuah bakti yang tiada mati.
Tapi, semakin terpatri.
Meski...
Dalam negeri yang hampir meninggalkan nama.

Hingga, darah juangku...
Telah penuh dengan bakti...
Bagi negeri yang telah mati.
===========================
Malang, 14 Mei 2018

PUISI BERLAWANAN ARAH

PUISI BERLAWANAN ARAH
By. Rekolanus Roli
===========================
Kau bilang, aku adalah kenangan.
Kenangan yang seakan telah mati.
Kenangan yang kau sebut meninggalkan luka.
Kau bahkan juga bilang, aku adalah lembaran usang.
Yang sepantasnya dibuang.
Dibuang dengan remasan-remasan kebusukan janji.

Tapi...
Aku merasa... aku adalah korban dari kenanganmu.
Korbang yang telah tercabik hatinya.
Korban yang sepantasnya disayang...
Bukan dibuang...

Entahlah...
Bagaimana jalan pikiranmu?
Siapa korban, siapa pelaku?
Tapi, yang pasti luka telah tergores dihati ini.

Kudambakan perlakuan sayangmu.
Tapi...
Kudapatkan diriku dalam lembaran kenanganmu.

Aku bukan yang kamu maksudkan?

Ahh...
Aku terlalu lugu untuk meyakinkan hati.
Sedang kita tidak sejalan...
Dan...
Hanya berlawanan arah.
===========================
Malang, 14 Mei 2018