Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2019

SELAMAT HARI TANI NASIONAL || 24 SEPTEMBER 2019

24 SEPTEMBER 2019
Oleh. Rekolanus Roli
Bukan tentang kepergian BJ. Habibie
Bukan pula tentang kehancuran perawan pertiwi

ini tentang sebuah regulasi yang katanya dibuat untuk dipatuhi
tapi semua hanya pelindung bagi yang tersereti

Politik merajalela...
Hak warga Negara sudah tak ada harga.

Sawah... Ladang... Habis di negeri agraris
Semua sibuk membangun tapi lupa dengan hak rakyat yang berkebun
mereka berlomba-lomba menaikan infrastruktur, tapi lupa tanpa pangan kematian tidak terukur.
Negeri yang katanya agraris tapi punya regulasi yang sangat miris

Hasil gambar untuk gambar selamat hari tani nasional


Camkan!!!
Petani... Tukang kebun...
saatnya hari  ini kau pantas untuk berbahagia, kau pantas untuk bersuara.
harimu di peringati, jangan hanya menikmati.
turunlah tuntaskan hakmu, serukan, kabarkan
kabarkan bahwa hari ini adalah harimu.

24 September adalah bukan sekedar hari dan tanggal
Tapi sebuah hari kau pantas untuk memantaskan diri.

Selamat Hari Tani Nasional!!!

Malang, 24 September 2019



Ikuti saya di Media Sosial:
=> Instagram: rekolanus18 ➤ https://www.instagram.com/rekolanus18...
=> Facebook : Rekolanus Roli ➤  https://www.facebook.com/rekolanus.roli
=> Twitter : @Rekolanus_Roli ➤ https://twitter.com/Rekolanus_Roli
=> Youtube : Rekolanus Roli ➤ https://www.youtube.com/channel/UCBRe4LOCojLctfqDC8DMPPw?view_as=subscriber

Rabu, 15 Mei 2019

PUISI UNTUK SEBUAH PENANTIAN AKAN KEPERGIAN "MENATAP SENJA"


Menatap Senja
Oleh. Rekolanus Roli

Kuingin menatap Senja…
Agar aku bisa mengerti arti kamu yang sesungguhnya.
Bisa tau apa yang menjadi mau dan maksudnya hatimu.
Bisa paham dengan apa yang menjadi alasanmu.
Meski sebenarnya aku tahu bahwa senja akan menghilang.

Aku hanya ingin memandang senja lebih lama…
Agar kau tau aku masih ditempat penantian menunggumu.
Menunggu kamu yang tidak mungkin kembali.
Menunggu kamu yang telah menghilang.
Menunggu kamu yang bahkan tidak mau tahu dengan rindunya hati ini.

Aku ingin menatap senja lagi…
Lagi… Lagi… Dan lagi…
Aku tidak pernah bosan…
Karena yang aku tahu, senja akan menghilang.
Namun, sang fajar akan memupuk satu harapan.

Aku ingin menatap senja…
Untuk menghilangkan penat, yang telah Lelah terluka.
Mungkin, aku juga belum siap…
Tapi senja telah terburu pergi.
Malang, Mei 2019

Sabtu, 11 Mei 2019

PUISI RINDU UNTUK KENANGAN "HEI SENJA"


Hei Senja
Oleh. Rekolanus Roli

Hei Senja…
Apa kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Seperti sore ini ya.
Oh ya, aku punya sebuah cerita tentang hati.
Aku mau mengucapkannya.
Tapi bukan tentang apa yang aku suka.
Lebih kepada apa yang aku rasa berat.
Ya, Berat, Sangat berat.

Hei Senja…
Aku rindu! Bilang itu padanya.
Waktu aku pertama memandang keindahanmu.
Kala itu aku  Bersama dia, yang terlihat anggun disertai pancaran cahayamu.
Aku awalnya bangga, bisa memandang keindahanmu Bersama dia.
Menuturkan setiap kata demi kata tentang masa depan.
Ya, masa depan aku dengannya.

Sejujurnya aku juga kecewa dengan rasaku.
Kenapa aku merindukannya? Padahal aku terluka.
Aku tidak waras, mungkin.
Aku Gila, Bisa jadi.
Tapi, rindu ini tidak bisa bohong.

Bukan rindu kepada lukanya, tapi kepada kenangannya.
Kenangan tentang harapan, untuk menata hari Bersama dimasa depan.
Meski kini semua tinggal harapan, tidak ada lagi kisah kita

Hei Senja…
Pergilah, sisakan sedikit waktu untuk besok.

Oh ya, jangan lupa titip salam buat sang Fajar.
Aku menunggu harapan baru dari kisah baruku.

Malang, Mei 2019

Kamis, 19 Juli 2018

PUISI BUAT HATI YANG TERLUKA

PUISI "TERLUKA"
karya. Rekolanus Roli
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Wahai sang Fajar, sebelum bersinar.
Tolong sampaikan kepada luka.
Jangan pernah datang pada hati ini
Bukan karena apa, tapi...
Karena hati ini sangat rapuh.

Itu buruknya hati ini, takut terluka.
Sehingga tiada kata untuk berdamai dengan rasa.

Lantas...
Harus sampai kapan luka datang tanpa diundang.
Katanya hidup menurut pilihan...
Tapi kenapa aku tidak bisa memilih untuk tidak terluka.

Bukankah itu hanya bahasa kiasan semata.
Tanpa ada makna yang mengartikan keberuntungan.

Bukanlah sebuah pilihan, tapi garis takdir.
Ya, garis traktir untuk terluka. Ataukah...
Sebuah Karma masa lalu.

Ahhh sudahlah...
Jika itu sebuah hobi, maka teruskanlah.
Sampai hati ini benar-benar mati.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Malang, 20 Juli 2018

Cek 🎯 💠 🔣

Sabtu, 07 Juli 2018

Puisi Tentang Kita

KITA
By. Rekolanus Roli
=============================
ketika kemaren aku sendiri...
dan kamu pun sendiri...
tapi ingat sayang.
sekarang dan seterusnya adalah kita.

setiap keputusanku adalah cara kita.
dimana setiap hal itu bukan sekedar tentang aku.
atau tentang kamu tapi tentang kita.

bagaimana aku adalah jalan kamu...
begitu pula bagaimana kamu adalah jalanku.
hingga jalanku sama dengan jalanmu.
sampai tua bahkan menutup mata.

bukan hendak menduakan sang Tuhan.
tapi ini sudah tulisan tangan-Nya.
untuk aku dan kamu agar menjadi kita.
yang kini terlampir dalam setiap diary kehidupan.
=============================
Malang, 07 Juli 2018

Senin, 02 Juli 2018

Puisi "MEYAKINKAN SANG KEKASIH"

JANGAN RAGU
By. Rekolanus Roli
✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴
jika aku boleh bertanya...
Kepada sang Tuhan.
Beri aku jawaban...
Berapa lama lagi hidup ini.
Hngga aku tahu...
Sampai mana batasan ku untuk percaya.

Jika aku dijinkan bertanya...
Kepada sang wanita.
Beri pula aku jawaban...
Masih ragukah kau dengan hati ini.
Hingga aku tidak menyalahkan takdir.

Boleh kau meragukanku...
Tapi tolong... Jangan ragukan hati ini.
Karena sejujurnya...
Aku lemah dengan keraguan.

Kupercayakan Tuhan.
Penentu Takdirku.
Tapi... Kepadamu ku percayakan pilihan masa depanmu.

Meski tercipta pedih...
Tolong jangan ditambah sembilu.
Karena jujur...
Hati ini tiada bisa menahan pilu.

Wajar bila kau meragukanku...
Lantas, apa arti percayaku?

Kepada sang bulan...
Dikala kau jadi saksi malamku.
Ku ingin bertanya...
Bodohkah aku dimatamu?

Tolong beri aku kejelasan.
Jangan kau ambangkan hati ini.

Keruh...
Aku rasa caramu menilaiku.
Sehingga kamu terlalu buta.
Tiada bisa melihat...
Ada warna yang tercipta.
✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴
Malang, 07 Juni 2018

Rabu, 06 Juni 2018

PUISI KETIKA TERINGAT MASA SEKOLAH

PUISI "KERTAS PUTIH"
By. Rekolanus Roli
===========================
Kisahan masa lalu...

Telah terlampir dalam diary.

Tergambar jelas canda tawa yang penuh warna.

Terukir sebuah kesan yang indah.

Kenangan kisah sekolah.

Hanya diingat tak lagi dirasa.

Kugoreskan tinta hitam...

Aku rangkai 1000 kata...

Aku susun ratusan kalimat...

Ku bentuk puisi indah.

Hingga tersyair...

Mengingat kisah lalu.

Terkenang kembali...

Rupa dan warna semua teman.

Teringat lagi...

Senyum dan sabar semua guru.

Aku tulis...

Semua dalam lembaran kertas putih.
===========================
Ketapang, 18 Juni 2016

PUISI SEBUAH ASA TENTANG CINTA

PUISI "ASA CINTA"
By. Rekolanus Roli
===========================
Perihnya kasih luka di hati ini...
Sakit sayang sembilu dibatin ini...
Sayap malaikat ini telah patah.
Tiada bisa menjagamu di kejauhan sana.

Aku disini untuk setia...
Aku Pergi mengejar diri dalam mimpi...

Mungkin lebih 1000 hari...
Tiada kulihat senyum nyata mu...

Adakala aku merasa...
Sebuah cinta timbulkan dusta. sebuah rindu timbulkan luka.

Tolonglah pahami aku...
Seperti aku pahami kamu.

Tunggulah aku...
Seperti aku yang selalu rela menunggumu.

Kulepaskan cinta ini terbang...
Mencari hati yang hilang.
Menyusuri cahaya harapan...

Dan...

Hinggap di dalam penantian.
===========================
Malang, 07 Juni 2018

PUISI DIKALA SUNYI

PUISI "PERAHU"
By. Rekolanus Roli
===========================
Gelombang mulai terasa...

Dikala sore di tengah lautan luas.

Tanpa takut aku bertahan...

Dengan mantap...

Mengayuh dan terus mengayuh...

Meninggalkan hal yang tak pasti.

Tiada gentar hadapi gelombang.

Tiada ku goyah dalam perahu ini.

Perahu... bawa aku dan mimpiku.

Pergi jauh tinggalkan daratan dusta.

Perahu... Anganku telah menjauh...

Meninggalkan aku dan piluku.

Perahu...

Kudayung dikau demi masa depan.
===========================
Ketapang, 19 Juni 2018

Jumat, 01 Juni 2018

PUISI KEGUNDAHAN HATI

PUISI TENANGKAN AKU SAYANG
By. Rekolanus Roli
===========================
Menari indah...
Pena dengan goresan tinta hitam.
Tanpa peduli...
Selembar kertas telah tercoreng.
Maksud jemari tuliskan syair.
Sebagai pengungkap gundahnya hati.

Tapi...
Jiwaku berkata lain...
Aku gundah seakan terkesan lemah.
Sampai...
Aku lupa bagaimana maksud dunia.

Kepada sang Tuhan...
Kusampaikan surat kecil.
Dalam bait sebuah puisi.
Tersirat dan tertulis...
Sebuah kata terima kasih.

Tuhan dengan baiknya...
Menitipkanmu disini.
Disaat aku layu...
Kamu siram aku dengan senyuman.
Kamu rawat dengan sapaan.
Hingga aku berharap lebih.
Kamu tinggal dan tenangkan aku.
Ya, tenangkan aku sayang.
===========================
Malang, 1 Juni 2018

Kamis, 31 Mei 2018

PUISI SEBUAH ALASAN BETAPA KAMU SANGAT BERHARGA

PUISI "JIKA KAMU"
By. Rekolanus Roli
===========================
Jika kamu mulai lemah...
Datanglah padaku...
Meski aku manusia membosankan.
Namun, jika kau mulai kuat...
Pergilah, tinggalkan aku...
Meski aku terluka.

Karena aku terkadang berpikir.
Kamu ragu bertahan...

Jika kamu... Rindu...
Berbaliklah padaku...
Dan...
Lihat aku tersenyum menantimu.
Tanpa menyimpan sedikit pun dendam.

Hanya ada sebuah harapan...
Ya, harapan menopangmu...
Dikala kamu jatuh.

Tapi...
Aku tidak rela jika kamu...
Jatuh cinta pada hati yang lain.

Jika kamu...
Meninggalkan ku kelak.
Bagaimana jawaban dunia.
Dengan...
Aku dan hati ini.

Sayang...
Jika kamu terluka...
Tetaplah tersenyum.
Karena, jujur...
Akulah orang pertama yang terpukul...
Jika melihat kamu terluka.

Jika kamu pergi...
Apa alasanku untuk meyakinkan dunia.
Sedang aku tidak ingin...
Kamu buruk dimata mereka.

Sayang...
Jika aku mati...
Dan meninggalkan sebuah nama.
Lihat dan bacalah... Puisi ini.
Ada tertulis indah namamu.

Jika kamu menangis...
Akan ada luka dalam ragaku.
Meski telah mati...
Tapi naluri tetaplah dalam hati.

Jika kamu...
Melihat tubuhku terbaring kaku.
Lihatlah pula aliran bening dari mataku.
Itulah bukti...
Bahwa aku tiada ingin pergi...
Tanpa meninggalkan kabar.
===========================
Malang, 31 Mei 2018

Selasa, 29 Mei 2018

PUISI UNTUK SEBUAH JANJI

PUISI "SETIA"
By. Rekolanus Roli
===========================
Jika aku boleh bertanya.
Apa arti setia untukmu?
Apakah kau mengartikan...
Hanya sebuah kata?
Atau...
Adakah arti khusus bagimu?

Setia...
Adalah serangkaian huruf yang indah...
Bagai seikat bunga tulip.
Kembang dan mekar, namun...
Rentan layu.

Tapi, setia bagiku...
Hanya ada satu makna...
Yaitu...
Bagaimana aku dan kamu...
Bisa saling menjaga.

Walau kelak...
Akan ada sebuah jarak.
Atau bahkan sebuah masa.
Yang harus memisahkan kita.

Sayang...
Ketahuilah...
Mulai malam ini...
Aku ingin setia itu...
Sebagai pengikat hati kita.
Jangan sampai ada pisau bermata dua.
Yang memutuskan..
Tali kepercayaanmu untukku.

Sekiranya...
Kamu mulai layu...
Sirami kembali dengan puisi ini.
Jangan kau lengah kasih.

Rawatlah...
Jangan ragu...
Aku telah mantap denganmu.

Ingat aku dengan janjiku.
Ingat pula dengan janjimu.

Bukan maksud aku mengekang.
Aku hanya ingin meyakinkanmu.
Bahwa setia itu benar ada.

Sayang...
Apa kamu tahu satu hal?
Bahwa...
Setia itu adalah aku
===========================
Malang, 29 Mei 2018

Sabtu, 26 Mei 2018

PUISI PENGINGAT HATI

PUISI "MAAF"
By. Rekolanus Roli
===========================
Terurai rambut indahmu...
Mengartikan eloknya paras itu.
Paras yang membuatku...
Merasa berdosa.

Kasih...
Maafkan aku...
Yang selalu menghidupkanmu dalam mimpiku.
Serta membangkitkan bayangan tentang kamu disiang bolong.

Maafkan aku sayang...
Yang terlalu erat menggenggam tanganmu.
Hingga kamu tiada bisa beranjak.

Mungkin...
Ini caraku menjagamu.
Agar tidak pergi meninggalkan luka.

Sayang...
Maafkan aku...
Aku terlalu takut jika kelak...
Kamu tinggalkan disini.
Karena...
Jujur dan sejujurnya...
Aku sudah terlalu bosan ditinggalkan.

Sayang...
Maafkan aku sekali lagi.

Ku mohon...
Dengan sangat kepadamu.

Sebagaimana aku mengenalmu.
Segitu pula, kupercayakan hari esok...
Kepada sang Ilahi sebagai jaminan yang Agung.

Sayang...
Jika ada maaf untuk ku...
Tidaklah perlu untuk kau ucap.
Cukuplah kiranya...
Kamu bertahan denganku...
Hingga hidup benar-benar...
Terasa ber-Tuhan

Kasih...
Inilah pintaku...
Kata maaf dari hatimu... Untukku.
===========================
Malang, 27 Mei 2018

PUISI SPESIAL UNTUK YANG TETAP BERTAHAN

PUISI BERTAHAN SATU HATI
By. Rekolanus Roli
===========================
Aku terlalu bodoh...
sehingga tidak tau arti sakit hati.

Tapi...
Aku juga biasa terlalu malas...
Untuk beranjak meninggalkan jejak.

Itulah...
Bukti bahwa aku tercipta untuk menjagamu.
Bukan membebanimu.

Lantas...
Apa tujuan kau tercipta?
Adakah itu untuk ku...

Kau cinta kepada Tuhan...
Tapi aku cemburu...

Aku benci dengan batasan.
Bukan karena jarak...
Bukan pula karena waktu.
Tapi, karena aku cinta kepadamu yang sudah Mulia.

Ahhh...
Sungguh...
Aku ingin...
Aku sama sepertimu...

Hah, Dunia tidak adil dengan takdir.
Sehingga aku hanya bisa diam seribu bahasa.
Meninggalkan tetesan bening yang seperti kenangan.

Kasih...
Jika kita tiada bersama...
Setidaknya aku tetap bisa menyisipkan kamu dalam doa.
Hingga aku bertahan untuk satu hati.
Ya, itulah kamu.
===========================
Malang, 26 Mei 2018

Jumat, 25 Mei 2018

PUISI TAKUT KEHILANGAN KEKASIH

PUISI APAKAH AKU SANGGUP?
By. Rekolanus Roli
===========================
Untuk hati...
Bagaimana kabar janjinya?
Masihkah hanya sebuah aksara?

Tolong...
Kabari otakku...
Masih waraskah dia?

Sejalan detik berlalu...
Ingin ku tahu kabar hatiku.
Yang terasa aku terlalu sayang.
Sehingga asa itu bangkit.

Terbayang aku dengan kata sayang.
Yang dulu ada dari kata cinta...
Meski kini terasa tinggal dusta.

Untuk hati...
Tanyakan padamu sendiri.
Apakah Ku Sanggup melepasmu kelak?
Jujur dan sejujurnya...
Aku tak sanggup, jika Kelak kamu pergi dengannya.

Untuk hati...
Bisakah kau bertahan untukku...
Menjaga Harapan suciku?

Untuk hati...
Apakah aku sanggup terluka?

Dari hati...
Apa jawabnya? Jika...
Sempurna itu bukan aku.

Kepada hati...
Aku hanya insan biasa...
Bisakah kau bertahan denganku.
Denganku yang terlalu jauh...
Meletakkan kisah kita di masa depan.

Untuk hati...
Kau jauh maupun dekat...
Tetap kupercayakan harapanku.

Jagalah itu...
Jangan kau campakkan.

Untuk hati...
Sudahkah kau jujur?

Jika sudah... Aku bersyukur kepada Sang Tuhan...
Yang telah baik membukakan mulutmu.

Namun, jika sebaliknya...
Aku mohon kepada Sang Tuhan...
Agar meluluhkan hati untuk bicara.

Hingga aku bisa bertanya...
Apakah aku sanggup terluka?
===========================
Malang, 25 Mei 2018

Rabu, 23 Mei 2018

PUISI KETAKUTAN LAKI-LAKI DENGAN CINTA KEPADA WANITA

PUISI AKU TAKUT KAMU MENGHILANG
By. Rekolanus Roli
===========================
Sayang...
Malam ini aku mimpi tentang kamu.
Kau ucap kata perpisahan.
Tapi, aku tiada bisa berkata.
Entah, karena aku terlalu cinta atau terlalu lugu.

Sayang...
Bahkan pagi ini aku membayangkan tentang kamu.
Tentang kamu yang membuat napas ini berhenti berhembus.
Seolah aku tiada bisa hidup tanpamu.

Sayang...
Matikan bara jika kamu tidak ingin api ini menyala.
Siramlah, jangan kamu acuhkan.
Karena akan terlalu sakit bagiku.
Jika kamu pergi dan tak kembali.
Sedang hati sudah terlalu percaya dengan cinta.

Sayang...
Sejujurnya...
Aku tiada takut gelapnya malam.
Aku tiada takut terangnya siang.
Tapi aku takut jika kelak kamu menghilang.
Meninggalkan bara yang belum kamu matikan.

Sayang...
Aku takut...
Kamu menghilang dan tinggalkan janji yang tiada tertepati.
===========================
Malang, 24 Mei 2018

Minggu, 03 September 2017

PEMILU RAYA

BALADA DALAM PEMIRA
=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=
     Oleh Rekolanus Roli
=======================
Koar-koar kau ungkap janji...
Memberikan seribu satu kata.
Untuk didengar pendukung dan pemilihmu.
Laksana gemuruh air bah, Kau kian lantang menyuarakan Angka dudukmu.
"Pilih aku... Pilih nomorku..."
Tanpa pikir suaramu ganggu telingaku.
Kau ikat tim sukses, kau gaet tim pemenanganmu.
Tanpa pikir siapa lawanmu.
Kau aklamasi atau bersaing, tiada masalah bagimu.
Yang menang akan tenang, dalam kau kalah takkan pasrah.
Komisi-komisi sibuk berjuang dalam lantunan koarmu.
Tanpa pedulikan waktu dan kejujuran.
Kau bodoh atau egois...
Tapi takkan kau tunjukkan saat itu.
Kau sembunyikan dibalik janjimu.
Berapa orang akan percaya, berapa orang akan kau perdaya.
Tak bisa ku hitung.
Mungkin juga kau bodoh.
Koarkan janji, tanpa pikirkan sebuah bukti yang kau tepati.
Pemilih berkata iya... Tapi sampai pada hari "H".
pilihannya bukan anda tapi dia yang anda lawan.
Inikah gambaran sebuah negara.
Balada dalam Pemira.
Laksana Surga yang tertunda.
============================
                    Malang, 20 Mei 2017

Sabtu, 22 April 2017

MEMPERINGATI HARI BUMI


                 BERAPA LAMA LAGI???
                    Oleh Rekolanus Roli
Dibalik daun pisang kala itu...
Kutatap langit sore yang membiru...
Laksana lautan luas yang terhampar...
Jauh di bawah aku menyaksikan tangisan semesta...
Yang seolah sedih melihat bumi yang semakin menua...
T'lah terdengar pula rintihan alam yang terbuka...
Jeritan kesengsaraan akan hidup yang tiada berapa lama...
Tanah subur kini telah kering tiada berair...
Hutan rimbun kini telah rata berganti bangunan pencakar...
Sungai-sungai jernih kini telah mengalir bersama racun pemusnah...
Kicauan burung kini telah berganti tangisan sang sulung...
Alam yang damai kini telah terberai...
Wahai manusia, tanam kembali asa Semesta yang kau sita...
Kau tahu manusia?
Terkadang semesta juga menangis...
Menyaksikan manusia berbuat semena-mena...
Tiada takut akan karma yang menimpa...
Teknologi kini meramal usia bumi tiada lama lagi...
Dimana langkah sigap untuk mencegah?
Tiada yang tahu...
Haruskah kita terpana nenunggu hancurnya dunia...
Ohhh...
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi Tuhan akan murka?
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi kita akan musnah?
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi karma menimpa?
Ohhh...
Tunggulah...
Akan tiba waktu yang kau tunggu...
                           Malang, 23 April 2015

Selasa, 18 April 2017

KEHIDUPAN ALAM

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
       TANGISAN SANG ALAM
           Oleh Rekolanus Roli
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Rintik hujan pagi hari...
Sirami jutaan penghuni Bumi...
Dengan berlipat harap dan mimpi...
Seraya sejuk embun pagi menusuk sampai tulang dan jiwa mati...
Mengingatkan akan alam yang semakin sunyi...
Menjadikan peri padi merana dan sendiri...
Tiada kicauan burung...
Tiada pula gemericik air yang bening...
Hanya tampak kehidupan kumuh bermandi sungai yang keruh...
Hanya terdengar tangisan alam yang semakin menjadi...
Berdoa berharap pada Tuhan menghukum kecongkakan dunia...
Oh... Alam telah murka...
Sanggupkah manusia menahannya?
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
                        Malang, 19 April 2017
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

PUISI Kerinduan Anak Rantau Kepada Kampung Halaman

                     BIARKAN
           Oleh Rekolanus Roli

Biarkan airmata mengalir...
Mengingat bulan yang bersinar terang...
Kala aku merenung dari atap rumah...
Biarkan cahaya terang disini menggodaku...
Tapi, satu keinginanku merasakan kehangatan...
keluarga diseberang sana...
Bukan keinginan belaka hingga aku mengorbankan airmata...
Biarkan nuansa kota menghiburku sejenak...
Melupakan sedikit nuansa desa permai yang kurindukan...
Demi amanah kedua orang tua..
Mencapai tujuan ibarat surga yang di rindukan...
Biarkan hujan rintik-rintik disini...
Menemaniku menatap luar dengan kenangan...
Biarkan kulalui rintangan dan halangan ini...
Demi seonggok cita-cita dan segenggam harapan...
Yang ditanam demi sebuah cahaya masa depan.
               Malang, 09 Februari 2017