Mengerti sastra adalah ciri khas penulis kreatif. Puisi adalah caraku menyampaikan rasa ketika mulutku terkunci. Pecinta sastra silahkan baca dan jangan lupa berikan komentar yang membangun agar setiap puisi dalam blog ini semakin baik, harapan kumpulan dalam buku "Antalogi Puisi". Bagi yang ingin membagikan isi dari Blog ini harus diserta tulisan "Disadur dari www.Puisirekolanusroli. blogspot. com " dan dengan tag: #Sastra, #Puisi, dan #Syair #Rekolanus_Roli" Selamat membaca..
Sabtu, 11 Mei 2019
PUISI RINDU UNTUK KENANGAN "HEI SENJA"
Minggu, 20 Mei 2018
PUISI MEMORIES MASA LALU
PUISI KENANGAN DILANGIT PAGI
By. Rekolanus Roli
===========================
Pena mulai menari...
Menggoreskan tinta hitam.
Diatas selembar kertas kenangan.
Meski sang fajar baru bersinar.
Namun, uluran cahaya sudah benderang.
Membawa secercah kenangan pagi.
Kenangan yang tidak meninggalkan luka.
Tepatnya tidak meninggalkan luka lama.
Namun, membuat luka baru tergores dan menyisakan sebuah harapan.
Harapan yang tak kunjung datang.
Sepedih hidup, seperih rasa.
Itulah kisah hati kala itu.
Kala itu berlari, katanya mengejar mimpi.
Mimpi untuk meninggalkanku.
Meninggalkan raga tanpa cinta.
Terkadang ingin kuteriakan telingamu sayang.
Agar kau tahu bahwa setiap pagi.
Ada sebuah kenangan yang seakan membunuhku.
Membunuh harapanku yang tersisa bersama bayangan dusta.
===========================
Malang, 21 Mei 2018
PUISI PERPISAHAN
PUISI SAMPAI JUMPA
By. Rekolanus Roli
===========================
Sempat ku bertanya...
Kenapa harus ada akhir?
Kenapa harus ada perpisahan?
Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?
Ahhh... Hidup terlalu tak adil untukku.
Aku bahagia berjumpa dengan sahabat.
Yang semula tidak saling kenal.
Yang tidak ada ikatan.
Tapi, status mempertemukan kita.
Sampai kita ada ikatan.
Ikatan persahabatan.
Ikatan yang tidak ada kata luka.
Sahabat...
Teruslah kejar mimpimu...
Bertarunglah didunia yang jahat Ini.
Jangan sampai kau goyah.
Bila kau hendak jatuh, ingatlah ada aku.
Yah, begitulah katanya kita.
Tapi status pula yang akhirnya memisahkan kita.
Kau telah kembali dan aku masih berjuang disini.
Kembalilah...
Gunakan kata suksesmu.
Kan kutunggu...
Kau bercerita meski sekedar lewat suara.
Sampai jumpa sahabat.
Sampai waktu yang tidak kita ketahui.
===========================
Malang, 21 Mei 2018
PUISI UNTUK KOTAKU
PUISI PESONA KOTA KECILKU
By. Rekolanus Roli
===========================
Terlintas dalam benakku...
Gambaran hebat dari kota kecilku.
Usia mudanya tiada seberapa.
Tapi, manusia terus menempanya.
Kota kecilku...
Kau indah... Kau gagah...
Hanya saja, manusianya serakah.
Kemarin kau adalah sebuah desa.
Namun, sang Tuhan sedang berbaik hati.
Kini kau kota kecil yang masih muda.
Akan kutunggu kabar baik anak cucuku kelak.
Kota kecilku menjadi kota tua yang penuh tawa.
Gemerlap lampu hiasi kota kecilku.
Meski kau terkesan tidak maju.
Tapi tak sedikit pun kau layu.
Dan tetap seperti kota kecil yang ayu.
Kota kecilku...
Pesonamu membukakan mata hatiku.
Yang dahulu tidak ada sedikit pun mimpi.
Kini, kota kecil menjadikan mimpi itu nyata.
Suksesku untuk kota kecilku.
Untuk generasiku.
Kota kecilku...
Pesonamu membuat seisi dunia cemburu.
Kau bahkan sering jadi buah bibir penggila keindahan.
Kota kecilku...
Kau kutinggalkan dengan pesona indahmu.
Tunggu suksesku...
Membawa baju baru bagimu.
Sehingga ibu pertiwi...
Tersenyum lebar dengan pesonamu.
===========================
Malang, 21 Mei 2018
Jumat, 18 Mei 2018
PUISI BUAT YANG LAGI DIHATI
PUISI JADILAH WANITAKU
By. Rekolanus Roli
===========================
Berjuta kata...
Kurangkai untuk utara maksud jiwaku...
Beribu lembar tertulis tanpa makna...
makna yang Kuharap...
kamu sebagai awal kata...
tapi aku terlalu lugu...
Seakan hatiku mulai membatu...
Kasih... Adakah ketulusanku, kamu terima dengan hati.
Sayang, kapankah aku bisa jujur dengan hati.
Bahwa aku amat sangat takut kamu pergi.
Meski kamu anggap sebuah candaan.
Tapi kuingin meyakinkan hati.
Agar kau tahu bahwa ada rahasia indah.
Yang kusimpan...
Untukmu.
Sebuah rahasia hati...
Hati yang mengharapkan kamu.
Ya, kamu...
Meski dengan sedikit malu...
Kuberusaha untuk jujur.
Sayang....
"Jadilah wanitaku" malam ini...
Sampai lembaran kita tertutup.
===========================
Malang, 18 Mei 2018
PUISI CINTA KEYAKINAN HATI
PUISI BILA CINTA BENAR ADA, KEMBALI DAN BERTAHANLAH DENGANKU
By. Rekolanus Roli
===========================
Kasih...
Bila kau rindu rumah...
Menangislah dalam pelukku...
Agar aku menjadi laki-laki yang berguna untukmu sepanjang jalan ceritamu.
Sayang...
Datanglah ke pelukanku jika kamu mulai lemah...
Tapi, Pergilah dari pelukku jika kau sudah mulai kuat.
Karena sayapku mungkin bisa goyah bila melihat tawamu dikekang olehku.
Kasih...
Aku adalah manusia yang punya berjuta kata rahasia.
Yang mungkin suatu saat akan membuatmu bosan
Dan, itulah yang kutakuti...
Sayang...
Masih kuatkah bendungan itu menahan air matamu?
Jika sudah rapuh...
Datanglah kepadaku...
Akan ku kuatkan itu dengan senyum lebar di bibirmu...
===========================
Malang, 18 Mei 2018
Selasa, 15 Mei 2018
PUISI TENTANG JERITAN HATI LAKI-LAKI
PUISI RAPUH
By. Rekolanus Roli
===========================
Berjuta kata...
Aku rangkai demi lampiaskan ceritaku.
Beribu makna...
Kusampaikan demi kejelasan kisah kita.
Ini bukan kisah cinta.
Tapi... Kisah pilu...
Dari laki-laki yang rapuh.
Laki-laki dengan keegoan.
Bukan laki-laki perayu...
Lebih tepat laki-laki yang layu.
Meski terkesan kokoh.
Tapi... Ketahuilah...
Akarnya mulai membusuk.
Tinggal menunggu terpaan angin sepoi-sepoi menumbangkannya.
Rapuh...
Adalah hatiku ketika itu.
Tiada maksud lain...
Aku hanya menjadi sepentil kisah
Yang kian lama, kian tiada terlihat.
Hah...
Rapuh...
Akulah sepantasnya itu.
Bukan kamu...
Bukan dia...
Bukan pula mereka.
Dalam kisah buku yang usang.
Aku tertulis...
Tapi... Hanya pelengkap cerita.
Bahkan... Jika selembar dikoyakan...
Masih terkesan sempurna untuk dibaca.
Rapuh...
Adalah jiwaku...
Kala melihat setetes bening keluar dari matamu.
Mendengar isakan mu yang semakin sendu.
Rapuh...
Adalah kisah, dari laki-laki yang tiada arti.
===========================
Malang, 15 Mei 2018
Senin, 14 Mei 2018
PUISI UNTUK MENENTUKAN PILIHAN
PUISI SUNRISE ATAU SUNSET
By. Rekolanus Roli
===========================
Jika kau ingin aku memilih...
Sunrise atau sunset?
Ketahuilah kasih...
Bahwa... Aku tidak ingin memilih keduanya.
Terlalu sakit menimbulkan harapan bersamamu, laksana sunrise yang dinanti.
Tapi, aku juga benci...
Kepada sunset yang dengan mudahnya mengubah harapan menjadi sebuah mimpi belaka.
Terlihat indah awalku melihatnya.
Tapi, pada akhirnya...
Sunset meninggalkan kegelapan dan menciptakan kekelaman.
Ya... Menciptakan kekelaman...
Sunrise...
Sunset...
Keduanya indah pada saat pertama.
Tapi, menciptakan harapan semu.
Membutakan hati dengan kelamnya malam gelap.
Sunrise atau Sunset?
Bukan Sunrise...
Bukan pula Sunset...
Aku memilih diam...
Karena...
Walau dalam pekat malam, aku ingin memilih Sunrise...
Tapi, dalam terangnya siang, aku ingin memilih Sunset...
Dan...
Kini semakin terasa...
Sebuah pilihan tanpa jawaban.
Ahhh... Sudahlah...
Tanyakan lagi...
Sunrise atau Sunset?
===========================
Malang, 14 Mei 2018
PUISI KEBANGSAAN
PUISI BAKTI BAGI NEGERI YANG MATI
By. Rekolanus Roli
===========================
Perjuanganku...
Mengisi hari merdeka ini.
Memenuhi cawan harapan undang-undang.
Melarutkan masa dalam buai mimpi.
Darah juangku adalah berkarya.
Bukan hanya bicara semata.
Berkarya bukan dengan tahta.
Bukan pula hanya dengan sebuah kata.
Tapi, dengan CINTA dan jiwa yang MEMBARA.
Ya, jiwa yang membara...
Untuk sebuah bakti.
Sebuah bakti yang dijunjung tinggi.
Sebuah bakti yang tiada mati.
Tapi, semakin terpatri.
Meski...
Dalam negeri yang hampir meninggalkan nama.
Hingga, darah juangku...
Telah penuh dengan bakti...
Bagi negeri yang telah mati.
===========================
Malang, 14 Mei 2018
PUISI BERLAWANAN ARAH
PUISI BERLAWANAN ARAH
By. Rekolanus Roli
===========================
Kau bilang, aku adalah kenangan.
Kenangan yang seakan telah mati.
Kenangan yang kau sebut meninggalkan luka.
Kau bahkan juga bilang, aku adalah lembaran usang.
Yang sepantasnya dibuang.
Dibuang dengan remasan-remasan kebusukan janji.
Tapi...
Aku merasa... aku adalah korban dari kenanganmu.
Korbang yang telah tercabik hatinya.
Korban yang sepantasnya disayang...
Bukan dibuang...
Entahlah...
Bagaimana jalan pikiranmu?
Siapa korban, siapa pelaku?
Tapi, yang pasti luka telah tergores dihati ini.
Kudambakan perlakuan sayangmu.
Tapi...
Kudapatkan diriku dalam lembaran kenanganmu.
Aku bukan yang kamu maksudkan?
Ahh...
Aku terlalu lugu untuk meyakinkan hati.
Sedang kita tidak sejalan...
Dan...
Hanya berlawanan arah.
===========================
Malang, 14 Mei 2018
Selasa, 18 April 2017
PUISI Kerinduan Anak Rantau Kepada Kampung Halaman
BIARKAN
Oleh Rekolanus Roli
Biarkan airmata mengalir...
Mengingat bulan yang bersinar terang...
Kala aku merenung dari atap rumah...
Biarkan cahaya terang disini menggodaku...
Tapi, satu keinginanku merasakan kehangatan...
keluarga diseberang sana...
Bukan keinginan belaka hingga aku mengorbankan airmata...
Biarkan nuansa kota menghiburku sejenak...
Melupakan sedikit nuansa desa permai yang kurindukan...
Demi amanah kedua orang tua..
Mencapai tujuan ibarat surga yang di rindukan...
Biarkan hujan rintik-rintik disini...
Menemaniku menatap luar dengan kenangan...
Biarkan kulalui rintangan dan halangan ini...
Demi seonggok cita-cita dan segenggam harapan...
Yang ditanam demi sebuah cahaya masa depan.
Malang, 09 Februari 2017
PUISI KERINDUAN ANAK RANTAU KEPADA KAMPUNG HALAMAN
KARUMAH (KAngen RUMAH)
Oleh Rekolanus Roli
Jauh diseberang lautan...
Kutatap namun tiada berujung...
Melamun pikirkan kampung halaman...
Namun tiada jua berlangsung...
Kau berlari dalam otak kecilku...
Terlintas laksana sebuah kereta yang melaju...
Jauh di sebelah gunung yang tinggi...
Aku memantau seraya menitikkan tetesan bening...
Menjadi perantau yang akan tahan banting...
Dengan harap silau cahaya masa depan dapat ku tangkap...
Dengan pedang kuat penahan rindu...
Karumah...
Kangen Rumah diseberang sana...
Yang seolah mengajakku untuk berjuang meraih hasil dalam rantauku...
Karumah...
Kangen Rumah dengan segala suasananya...
Yang membuat rasa rindu semakin mendalam...
Karumah...
Kangen Rumah dengan hasil segala usahaku...
Hingga aku mendapat mimpi yang sempurna...
Malang, 18 April 2017