Tampilkan postingan dengan label Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rakyat. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2019

SELAMAT HARI TANI NASIONAL || 24 SEPTEMBER 2019

24 SEPTEMBER 2019
Oleh. Rekolanus Roli
Bukan tentang kepergian BJ. Habibie
Bukan pula tentang kehancuran perawan pertiwi

ini tentang sebuah regulasi yang katanya dibuat untuk dipatuhi
tapi semua hanya pelindung bagi yang tersereti

Politik merajalela...
Hak warga Negara sudah tak ada harga.

Sawah... Ladang... Habis di negeri agraris
Semua sibuk membangun tapi lupa dengan hak rakyat yang berkebun
mereka berlomba-lomba menaikan infrastruktur, tapi lupa tanpa pangan kematian tidak terukur.
Negeri yang katanya agraris tapi punya regulasi yang sangat miris

Hasil gambar untuk gambar selamat hari tani nasional


Camkan!!!
Petani... Tukang kebun...
saatnya hari  ini kau pantas untuk berbahagia, kau pantas untuk bersuara.
harimu di peringati, jangan hanya menikmati.
turunlah tuntaskan hakmu, serukan, kabarkan
kabarkan bahwa hari ini adalah harimu.

24 September adalah bukan sekedar hari dan tanggal
Tapi sebuah hari kau pantas untuk memantaskan diri.

Selamat Hari Tani Nasional!!!

Malang, 24 September 2019



Ikuti saya di Media Sosial:
=> Instagram: rekolanus18 ➤ https://www.instagram.com/rekolanus18...
=> Facebook : Rekolanus Roli ➤  https://www.facebook.com/rekolanus.roli
=> Twitter : @Rekolanus_Roli ➤ https://twitter.com/Rekolanus_Roli
=> Youtube : Rekolanus Roli ➤ https://www.youtube.com/channel/UCBRe4LOCojLctfqDC8DMPPw?view_as=subscriber

Sabtu, 11 Mei 2019

PUISI RINDU UNTUK KENANGAN "HEI SENJA"


Hei Senja
Oleh. Rekolanus Roli

Hei Senja…
Apa kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Seperti sore ini ya.
Oh ya, aku punya sebuah cerita tentang hati.
Aku mau mengucapkannya.
Tapi bukan tentang apa yang aku suka.
Lebih kepada apa yang aku rasa berat.
Ya, Berat, Sangat berat.

Hei Senja…
Aku rindu! Bilang itu padanya.
Waktu aku pertama memandang keindahanmu.
Kala itu aku  Bersama dia, yang terlihat anggun disertai pancaran cahayamu.
Aku awalnya bangga, bisa memandang keindahanmu Bersama dia.
Menuturkan setiap kata demi kata tentang masa depan.
Ya, masa depan aku dengannya.

Sejujurnya aku juga kecewa dengan rasaku.
Kenapa aku merindukannya? Padahal aku terluka.
Aku tidak waras, mungkin.
Aku Gila, Bisa jadi.
Tapi, rindu ini tidak bisa bohong.

Bukan rindu kepada lukanya, tapi kepada kenangannya.
Kenangan tentang harapan, untuk menata hari Bersama dimasa depan.
Meski kini semua tinggal harapan, tidak ada lagi kisah kita

Hei Senja…
Pergilah, sisakan sedikit waktu untuk besok.

Oh ya, jangan lupa titip salam buat sang Fajar.
Aku menunggu harapan baru dari kisah baruku.

Malang, Mei 2019

Minggu, 20 Mei 2018

PUISI UNTUK KOTAKU

PUISI PESONA KOTA KECILKU
By. Rekolanus Roli
===========================
Terlintas dalam benakku...
Gambaran hebat dari kota kecilku.
Usia mudanya tiada seberapa.
Tapi, manusia terus menempanya.

Kota kecilku...
Kau indah... Kau gagah...
Hanya saja, manusianya serakah.

Kemarin kau adalah sebuah desa.
Namun, sang Tuhan sedang berbaik hati.
Kini kau kota kecil yang masih muda.

Akan kutunggu kabar baik anak cucuku kelak.
Kota kecilku menjadi kota tua yang penuh tawa.

Gemerlap lampu hiasi kota kecilku.
Meski kau terkesan tidak maju.
Tapi tak sedikit pun kau layu.
Dan tetap seperti kota kecil yang ayu.

Kota kecilku...
Pesonamu membukakan mata hatiku.
Yang dahulu tidak ada sedikit pun mimpi.
Kini, kota kecil menjadikan mimpi itu nyata.

Suksesku untuk kota kecilku.
Untuk generasiku.

Kota kecilku...
Pesonamu membuat seisi dunia cemburu.
Kau bahkan sering jadi buah bibir penggila keindahan.

Kota kecilku...
Kau kutinggalkan dengan pesona indahmu.

Tunggu suksesku...
Membawa baju baru bagimu.

Sehingga ibu pertiwi...
Tersenyum lebar dengan pesonamu.
===========================
Malang, 21 Mei 2018

Selasa, 18 April 2017

Puisi Pinggiran

                      Ditepi Jalan
             Oleh. Rekolanus Roli

Saat ku berjalan menyusuri tepian perkotaan...
Kulihat disekelilingku...
Banyak anak-anak di usia dini yang berkeliaran ditepi jalan mencari rupiah...
Demi sesuap nasi dan segelas air...
Hatiku pilu...Hatiku menjerit melihat semua ini.
Dimana kebijakan pemerintah?...
Akankah anak-anak seperti ini...
Memiliki masa depan yang cerah?...
Tidak....tidak sama sekali!...
Ditepi jalan...
Kulihat...Banyak anak manusia yang menderita.
Anak-anak yang seharusnya...
Duduk dibangku sekolah...
Anak-anak yang seharusnya...Patut diperhatikan....
Kini...Tiada yang peduli...
Begitu miris nasib anak sekecil itu...
Mengarungi hidup seperti seperti roda mati...
                    Lotong, 24 Maret 2015