Sabtu, 11 Mei 2019

PUISI RINDU UNTUK KENANGAN "HEI SENJA"


Hei Senja
Oleh. Rekolanus Roli

Hei Senja…
Apa kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Seperti sore ini ya.
Oh ya, aku punya sebuah cerita tentang hati.
Aku mau mengucapkannya.
Tapi bukan tentang apa yang aku suka.
Lebih kepada apa yang aku rasa berat.
Ya, Berat, Sangat berat.

Hei Senja…
Aku rindu! Bilang itu padanya.
Waktu aku pertama memandang keindahanmu.
Kala itu aku  Bersama dia, yang terlihat anggun disertai pancaran cahayamu.
Aku awalnya bangga, bisa memandang keindahanmu Bersama dia.
Menuturkan setiap kata demi kata tentang masa depan.
Ya, masa depan aku dengannya.

Sejujurnya aku juga kecewa dengan rasaku.
Kenapa aku merindukannya? Padahal aku terluka.
Aku tidak waras, mungkin.
Aku Gila, Bisa jadi.
Tapi, rindu ini tidak bisa bohong.

Bukan rindu kepada lukanya, tapi kepada kenangannya.
Kenangan tentang harapan, untuk menata hari Bersama dimasa depan.
Meski kini semua tinggal harapan, tidak ada lagi kisah kita

Hei Senja…
Pergilah, sisakan sedikit waktu untuk besok.

Oh ya, jangan lupa titip salam buat sang Fajar.
Aku menunggu harapan baru dari kisah baruku.

Malang, Mei 2019

Rabu, 17 April 2019

PUISI UNTUK KAMU YANG SEDANG KURINDU "SENJA UNTUK BIDADARI TAK BERSAYAP"

SENJA UNTUK BIDADARI TAK BERSAYAP
                        Oleh. Rekolanus Roli
Aku menyukai senja, karena sama seperti kamu...
Meski sebentar datang dan menunggu...
Namun, hangatnya mampu memeluk hingga ke kalbu yang telah menciptakan rindu...
Aku menyukai senja, meski hilang namun muncul kembali.
Karena itu, aku senantiasa menunggumu laksana aku menunggu senja.
Aku menyukai kamu, karena sama seperti senja.
Tidak perlu khawatir akan menghilang, dia bisa datang dan menyapa dengan senyum.
Bangga,,, aku bangga bisa menyapa dan dibalas dengan ramahnya...
Tetaplah menjadi senja yang kurindu.
Aku menunggu hingga waktu berlalu seperti kalbu dan senja sore itu.
==
===================
Malang, 14 April 2019

Kamis, 19 Juli 2018

PUISI BUAT HATI YANG TERLUKA

PUISI "TERLUKA"
karya. Rekolanus Roli
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Wahai sang Fajar, sebelum bersinar.
Tolong sampaikan kepada luka.
Jangan pernah datang pada hati ini
Bukan karena apa, tapi...
Karena hati ini sangat rapuh.

Itu buruknya hati ini, takut terluka.
Sehingga tiada kata untuk berdamai dengan rasa.

Lantas...
Harus sampai kapan luka datang tanpa diundang.
Katanya hidup menurut pilihan...
Tapi kenapa aku tidak bisa memilih untuk tidak terluka.

Bukankah itu hanya bahasa kiasan semata.
Tanpa ada makna yang mengartikan keberuntungan.

Bukanlah sebuah pilihan, tapi garis takdir.
Ya, garis traktir untuk terluka. Ataukah...
Sebuah Karma masa lalu.

Ahhh sudahlah...
Jika itu sebuah hobi, maka teruskanlah.
Sampai hati ini benar-benar mati.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Malang, 20 Juli 2018

Cek 🎯 💠 🔣