BALADA DALAM PEMIRA
=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=°=
Oleh Rekolanus Roli
=======================
Koar-koar kau ungkap janji...
Memberikan seribu satu kata.
Untuk didengar pendukung dan pemilihmu.
Laksana gemuruh air bah, Kau kian lantang menyuarakan Angka dudukmu.
"Pilih aku... Pilih nomorku..."
Tanpa pikir suaramu ganggu telingaku.
Kau ikat tim sukses, kau gaet tim pemenanganmu.
Tanpa pikir siapa lawanmu.
Kau aklamasi atau bersaing, tiada masalah bagimu.
Yang menang akan tenang, dalam kau kalah takkan pasrah.
Komisi-komisi sibuk berjuang dalam lantunan koarmu.
Tanpa pedulikan waktu dan kejujuran.
Kau bodoh atau egois...
Tapi takkan kau tunjukkan saat itu.
Kau sembunyikan dibalik janjimu.
Berapa orang akan percaya, berapa orang akan kau perdaya.
Tak bisa ku hitung.
Mungkin juga kau bodoh.
Koarkan janji, tanpa pikirkan sebuah bukti yang kau tepati.
Pemilih berkata iya... Tapi sampai pada hari "H".
pilihannya bukan anda tapi dia yang anda lawan.
Inikah gambaran sebuah negara.
Balada dalam Pemira.
Laksana Surga yang tertunda.
============================
Malang, 20 Mei 2017
Mengerti sastra adalah ciri khas penulis kreatif. Puisi adalah caraku menyampaikan rasa ketika mulutku terkunci. Pecinta sastra silahkan baca dan jangan lupa berikan komentar yang membangun agar setiap puisi dalam blog ini semakin baik, harapan kumpulan dalam buku "Antalogi Puisi". Bagi yang ingin membagikan isi dari Blog ini harus diserta tulisan "Disadur dari www.Puisirekolanusroli. blogspot. com " dan dengan tag: #Sastra, #Puisi, dan #Syair #Rekolanus_Roli" Selamat membaca..
Minggu, 03 September 2017
PEMILU RAYA
Rabu, 24 Mei 2017
SELAMAT MERAYAKAN HARI KENAIKKAN ISA ALMASIH
Admin ucapkan Selamat memperingati hari Kenaikkan Isa Almasih bagi seluruh Umat Nasrani. Damai Kristus besertamu. GOD BLESS YOU ALL
Sabtu, 22 April 2017
MEMPERINGATI HARI BUMI
BERAPA LAMA LAGI???
Oleh Rekolanus Roli
Dibalik daun pisang kala itu...
Kutatap langit sore yang membiru...
Laksana lautan luas yang terhampar...Jauh di bawah aku menyaksikan tangisan semesta...
Yang seolah sedih melihat bumi yang semakin menua...
T'lah terdengar pula rintihan alam yang terbuka...
Jeritan kesengsaraan akan hidup yang tiada berapa lama...
Tanah subur kini telah kering tiada berair...
Hutan rimbun kini telah rata berganti bangunan pencakar...
Sungai-sungai jernih kini telah mengalir bersama racun pemusnah...
Kicauan burung kini telah berganti tangisan sang sulung...
Alam yang damai kini telah terberai...
Wahai manusia, tanam kembali asa Semesta yang kau sita...
Kau tahu manusia?
Terkadang semesta juga menangis...
Menyaksikan manusia berbuat semena-mena...
Tiada takut akan karma yang menimpa...
Teknologi kini meramal usia bumi tiada lama lagi...
Dimana langkah sigap untuk mencegah?
Tiada yang tahu...
Haruskah kita terpana nenunggu hancurnya dunia...
Ohhh...
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi Tuhan akan murka?
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi kita akan musnah?
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi karma menimpa?
Terkadang semesta juga menangis...
Menyaksikan manusia berbuat semena-mena...
Tiada takut akan karma yang menimpa...
Teknologi kini meramal usia bumi tiada lama lagi...
Dimana langkah sigap untuk mencegah?
Tiada yang tahu...
Haruskah kita terpana nenunggu hancurnya dunia...
Ohhh...
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi Tuhan akan murka?
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi kita akan musnah?
Berapa lama lagi???
Berapa lama lagi karma menimpa?
Ohhh...
Tunggulah...
Akan tiba waktu yang kau tunggu...
Malang, 23 April 2015
Malang, 23 April 2015
Langganan:
Komentar (Atom)

